Thursday, November 6, 2014
D3, D4, S1 atau S2?
Tuntutan zaman, mungkin itulah salah satu kunci perubahan. Era globalisasi, pasar bebas, memaksa kita tumbuh dan berubah agar tak ketinggalan.
Fisioterapi sebagai salah satu profesi kesehatan yang diakui di Indonesia dan di dunia juga terus mengalami perubahan dan perkembangan.
Di Indonesia khususnya (maaf, BuFis cuma tau yang di Indonesia aja), Pendidikan Fisioterapi terus berkembang. Semula hanya ada pendidikan setara Diploma 3, lalu muncul pendidikan Diploma 4, baru-baru ini beberapa universitas sudah memiliki prodi S1 Fisioterapi. Malah ada yang buka program S2 (M.Fis kalo gak salah gelarnya, Magister Fisiologi atau Fisioterapi sih? Ada yang tau? )
Ada yang melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, misalnya dari D3 ke D4..eh...D4 masih ada gak sih? let say...dari D3 ke S1 atau dari D4 ke S2...atau dari S1 ke S2. Ahh...pusing..ya pokoknya ke jenjang yang lebih tinggi lah.
Alasannya beda-beda. Buat yang terdaftar sebagai PNS ada yang alasannya untuk naik golongan kepangkatan. Yang bukan PNS alasannya biar bisa jadi kepala unit di tempat kerjanya. Yang udah senior alasannya malu, masak kalah sama anak buahnya. Yang buka praktek mandiri biar keren kalo gelarnya agak panjangan dikit, yang gak mau jadi praktisi ya biar bisa jadi akademisi. Yang males kerja biar dapet tugas belajar dari instansi, dibayar lagi. Yang gak punya alasan...ya carilah alasan...jangan diem aja. Hahaha!
Tapi ada juga lho yang keukeuh gak mau sekolah lagi...mereka juga punya alasan. Misalnya...buat apa sekolah lagi...kerjanya juga sama aja, gajinya juga sama aja, jabatan? gak beda. Masih ada prioritas lain. Itu juga alasan kan?
Belajar itu gak ada salahnya dan gak ada ruginya, kecuali belajarnya sambil tengkurep di tengah jalan raya. Hehe...garing ya. Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, apapun alasannya, insyaAllah baik, selama tidak dibarengi unsur riya, ujub dan takabbur.
Dan juga mohon untuk tidak melalaikan dan melupakan sumpah profesinya. Profesi kita ada di bidang pelayanan, jadi ya tugasnya melayani. Boleh kita tiru guru-guru kita yang berprofesi dokter dan bergelar profesor. Mereka sudah pada level tertinggi di profesi mereka. Mereka jadi pembimbing, pengajar, tapi tetap praktek melayani pasien. Karena apa gunanya jabatan atau gelar tinggi jika justru menghilangkan esensi dari gelar itu sendiri.
Satu lagi, jangan pernah menjelekkan, membenci, menghujat atau merasa lebih hebat dari profesi lainnya. Semua sudah pada porsi dan kapasitas masing-masing,
Apapun jenjang pendidikan kita, apapun jabatan dan gelar kita dan dimanapun kita, semoga semua yang kita lakukan semata-mata mengharap ridhonya dan memberi nafkah halal untuk keluarga kita.
Hahaha....capek ah. Udah kaya orang bener aja ngomongnya. Mohon maaf jika ada yang tidak suka dengan tulisan BuFis. Tidak bermaksud untuk merugikan atau menzalimi siapapun. Semoga Allah mengampuni BuFis. Sukses untuk kita.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment